Indonesia

Indonesia

Sisi bagus dari Film: "Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI"....!!!

Sisi bagus dari Film: Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI....!!! | http://indonesiatanahairku-indonesia.blogspot.com/
Ditayangkan setiap tahun di televisi nasional sampai akhir kekuasaan Suharto,Pengkhianatan G30S/PKI kemungkinan merupakan artefak budaya paling penting yang bersaksi terhadap dominasi militer di bawah kepemimpinan Suharto.

Judul semula: SOB (Sejarah Orde Baru). Film terlaris I di Jakarta, 1984, dengan 699.282 penonton, menurut data Perfin. Jumlah ini merupakan rekor tersendiri, yang belum terpecahkan hingga 1995. 

September 1998 diumumkan oleh Menpen Yunus Yosfiah, bahwa film ini tidak akan diputar/diedarkan lagi, di samping film-film "JAnur Kuning" (1979) dan "Serangan Fajar" (1981), karena berbau rekayasa sejarah dan mengkultuskan seseorang: Presiden Soeharto.

Terlepas dari sisi politis atau kata "rekayasa", Sesungguhnya film ini digarap dengan detil yang mencengangkan. Bahkan bisa dibilang, sampai saat ini, film Penumpasan Pengkhianatan G30S/PKI ini merupakan salah satu film terbaik dalam sejarah film Indonesia. Inilah Sisi bagus dari Film: 'Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI" :

1. Musik Latarnya.
Adalah Embie C Noor yang jadi music director film ini. Seperti sudah paham akan dibawa kemana arah film ini, maka latar belakang musik mencekam lah yang dipilih. 

Karena memang itu tujuan dari film propaganda ini, memberi kesan mengerikan dan kejam tentang PKI. Dari mulai awal film yang memperlihatkan bung Karno di istana Bogor saja musiknya sudah menyayat. 

Belum lagi narasi yang kaku dan dingin serta latar suara berita radio yang menceritakan rawannya situasi politik saat itu. Musiknya tidak membuat kita kaget dan bikin berdebar-debar seperti film horor pada umumnya, tapi pelan dan menyayat, seakan mengiris kuping dan hati. 

2. Setting
Berpindah-pindah dari mulai istana Bogor, rumah para panglima, TK Ade Irma, ruang-ruang sempit penuh asap rokok, tempat rapat-rapat gelap PKI, dan tentu saja lubang buaya. 

Selingan suasana masyarakat miskin yang sedang antri beras, coretan-coretan Manipol Usdek di tembok-tembok dan atap rumah, poster bung Karno, semuanya menggambarkan suasana tahun 60an dengan sangat akurat dan memberi kesan betapa mencekamnya situasi saat itu. 

(Walaupun si kemudian hari ada yang "Protes" diantaranya : bahwa pada salah satu adegan ada snapshot sakelar lampu yang di "katakan" bahwa pada tahun tersebut (1965), jenis sakelar tersebut belum ada (belum di produksi).

Sisi bagus dari Film: Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI....!!!
3. Alur Cerita
Durasi film yang hampir 4 jam ini sama sekali tidak bertele-tele, malahan bikin kita tegang terus karena setiap adegan memberi kesan penting dan genting. 

(Ditambah lagi keharusan untuk mengetahui isi film dengan baik dan benar bagi para pegawai negeri dan anak sekolah, karena akan keluar di ujian..), membuat pengalaman menonton film ini menjadi semakin mendebarkan. 

Adegan kekerasan dan kekejaman dalam film ini tidak usah ditanya lagi betapa sadisnya. Ketika para jendral disiksa dengan latar belakang lagu genjer-genjer itu sungguh tak terlupakan atau ketika anak DI Panjaitan histeris membasuh mukanya dengan genangan darah ayahnya, dan tentu saja tertembaknya Ade Irma. Bombastis meneror sampai ke alam bawah sadar. Membuat siapapun yang mendengar kata PKI akan merinding.

4. Dialog
Ah siapa sih yang tidak ingat :

'Darah itu merah, Jendral', 
'Jawa adalah Kunci', 
'Hari H, 
Djam D', 
'Bukan main wanginya minyak wangi jenderal. Begitu harum sehingga mengalahkan amis darah sendiri'. 

Dialognya sangat kuat, karena film ini adalah propaganda sejarah setiap kalimat dan fakta yang hendak diceritakan harus jelas. Sehingga penonton mengingat jelas setiap detil sejarah, nama-nama dan peristiwa yang hendak digaris bawahi dalam film ini. Semakin keren karena anda sama sekali tidak bosan menonton film ini, padahal sangat sarat dengan muatan sejarah dan propaganda.

Sisi bagus dari Film: Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI....!!!
5. Pemain
Film ini bisa dibilang film terbesar dalam sejarah film Indonesia, ada sekitar 10.000 figuran dan 120 orang yang memerankan tokoh nyata. 

Sastrawan Ommar Khayam sebagai bung Karno, sastrawan dan wartawan Syubah Asa sebagai DN Aidit, Amaroso Katamsi jadi Soeharto, dan Wawan Wanisar jadi Pierre Tendean, ajudan Nasution yang tertembak menggantikan komandannya. 

Meskipun akting para pemainnya tidak ada yang terlalu istimewa, semacam akting berama-ramai, tipikal drama dokumenter, tapi justru kesan kaku dan dingin dari para pemainnya menambahkan nuansa serius dan mencekam dari film ini.

Film ini digarap dikerjakan oleh Arifin C Noer setelah konon, G.Dwipajana, direktur PPFN saat itu berkonsultasi dengan Gunawan Mohamad ( Tempo ) dalam suatu pagi sambil jogging bersama dan berkata kalau PPFN ingin membuat film tentang Pak Harto yang bagus. 

Gunawan Mohammad lalu mengusulkan Arifin C Noer. Film ini ternyata sangat ampuh sebagai film propaganda anti komunis setelah diwajibkan oleh pemerintah Orde Baru untuk diputar di semua stasiun televisi setiap tahun pada tanggal 30 September sekaligus untuk memperingati insiden Gerakan 30 September pada tahun 1965. 

Bisa dibilang film ini masuk kategori film Indonesia jadul yang membuat trauma. Bukan cuma trauma personal tapi juga trauma bangsa. Nah,Kalo dulu kan nonton film ini dipaksa.  sekarang kita bisa menilai film ini lebih dari sisi artistiknya, bukan dari segi propagandanya. Kapan terakhir anda nonton film ini? 

Nah untuk anda yang kangen dan sekedar melepas kerinduan akan Film: 'Penumpasan Pengkhianatan G30S PKI" ini..,  bisa di nikmati di bawah :




Share on Google Plus

About Poerwalaksana M.Djayasasmita

Poerwalaksana is a freelance web designer and developer with a passion for interaction design, Business Enthusiast, Start Up Enthusiast, Speaker and Writer. Inspired to make things looks better.

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment