Indonesia

Indonesia

Pitung..., Antara Legenda dan kenyataan....!!!

Pitung..., Antara Legenda dan kenyataan....!!!
Siapa yang tidak kenal dengan Si Pitung. Jagoan asal Betawi yang menjadi bagian dari sejarah Jakarta tempo dulu.

Sejumlah literatur yang ditulis oleh orang Belanda menyebutkan bahwa Si Pitung adalah penjahat kriminal yang ditakuti seantero Batavia, terutama pemerintah Belanda.

Namun bagi rakyat jelata, Si Pitung adalah Robin Hood yang menyelamatkan mereka dari kelaparan. Maklum pada zaman penjajahan Belanda, rakyat pribumi sedemikian sengsaranya hingga untuk makan yang layak saja susah.

Hanya pribumi yang punya hubungan dekat dengan dengan Belanda saja yang bisa hidup layak.

Legenda Si Pitung menjadi warisan budaya Betawi. Kisah Legenda Si Pitung ini kadang-kadang dituturkan menjadi rancak (sejenis balada), sair, atau cerita Lenong.

Menurut versi Koesasi (1992), Si Pitung di identikan dengan tokoh Betawi yang membumi, muslim yang saleh, dan menjadi contoh suatu keadilan sosial.

Si Pitung lahir di daerah Pengumben sebuah kampung di Rawabelong yang pada saat ini berada di sekitar lokasi Stasiun Kereta Api Palmerah. Ayahnya bernama Bung Piung dan ibunya bernama Mbak Pinah. Pitung menerima pendidikan di pesantren yang dipimpin oleh Haji Naipin (seorang pedagang kambing).

Si Pitung merupakan nama panggilan asal kata dari Bahasa Jawa Pituan Pitulung (Kelompok Tujuh), kemudian nama panggilan ini menjadi Pitung. Nama asli Si Pitung sendiri adalah Salihun (Salihoen).

Menurut Damardini (1993:148) dalam Van Till (1996) : Pitung memang perampok. Kalau menurut istilah sekarang, Pitung itu pengacau, dan dicari oleh Pemerintah. Pitung memang jahat. Pekerjaannya merampok dan memeras orang-orang kaya.

Pitung..., Antara Legenda dan kenyataan....!!!
Menurut kabar, hasil rampokannya dibagikan pada rakyat miskin. Namun sebenarnya tidak. Tidak ada perampok yang rela membagi hasil rampokannya dengan cuma-cuma, bukan..??

Menurut kabar, Pitung menyumbangkan uangnya pada mesjid-mesjid. Saat itu mesjid hanya ada di Pekojan, Luar Batang, dan Kampung Sawah. Tidak ada bukti bahwa Pitung mendermakan uangnya di sana.

Pitung menjadi karakter sebagai Robin Hood versi Betawi dikembangkan oleh Lukman Karmani (Till, 1996).Karmani menulis novel Si Pitung, novel ini dikisahkan bahwa Si Pitung sebagai pahlawan sosial. Menurut Rahmat Ali (1993).

‘Pitung sebagai tokoh kisah Betawi masa lampau memang dikenal sebagai perampok, tetapi hasil rampokan itu digunakan untuk menolong orang-orang yang menderita. 

Dia adalah Robin Hood Indonesia. Walaupun demikian pihak yang berwenang tidak memberikan toleransi, orang yang bersalah harus tetap diberi hukuman yang setimpal’ (Rahmat Ali 1993:7).

Beragam pro dan kontra banyak menyelubungi di balik kisah legenda Si Pitung ini, tetapi pada dasarnya bahwa tokoh Si Pitung adalah cerminan pemberontakan sosial yang dilakukan oleh “Orang Betawi” terhadap penguasa pada saat itu yaitu Belanda.

Apakah hal ini dipertanyakan valid atau tidaknya, kisah Si Pitung begitu harum didengar dari generasi ke generasi oleh masyarakat Betawi sebagai tanda pembebasan sosial dari belenggu penjajah. Hal ini ditunjukkan dari Rancak Pitung diatas bagaimana Si Pitung begitu ditakuti oleh pemerintah Belanda pada saat itu.

Menurut cerita, Si Pitung dan kawanan-nya menggunakan berbagai cara pintar untuk merampok. Terkadang Si Pitung dan kawanannya mengelabui para tuan tanah dengan cara berpura-pura menjadi kaki tangan Belanda.

Pitung..., Antara Legenda dan kenyataan....!!!
Akibat dari hal ini kemudian Si Pitung dan Kawanannya menjadi buronan “kompenie”. Dan ini tentu saja menarik perhatian komisaris polisi yang bernama Van Heyne (“Schout Van Heyne, atau Van Heijna, Scothena, atau “Tuan Sekotena”).

Secara resmi menurut Van Till (1996) nama petugas polisi pada saat ini bernama A.W. Van Hinne yang pernah bertugas di Batavia dari tahun 1888 – 1912.

(Menurut catatan kepolisis Belanda. Van Hinne memulai karier sebagai pegawai klerikal Pemerintah Belanda, kemudian menjadi Deputi Kehutanan, dan Polisi di beragam tempat di Indonesia. Van Hinne menderita sakit yang serius, Yang akhirnya dikembalikan ke Eropa untuk penyembuhan.

Pada akhir tahun 1880 Van Hinne menjadi seorang Perwira Polisi di Batavia (Stambock van Burgerlijke Ambtenaren in Nederlandsch-Indie en Gouvernements Marine, ARA (Aigemeen Rijksarchief), Den Haag, register T.f. 274).

Van Hinne segera memburu Si Pitung dengan membabi buta. Akhirnya dia dapat menangkap Pitung, tetapi kemudian Si Pitung berhasil melarikan diri dari tahanan ka-Demangan Meester Cornelis. Van Till (1996) menyatakan bahwa Si Pitung mampu bebas dengan kekuatan “magis”.

Pitung..., Antara Legenda dan kenyataan....!!!
Kemudian Hinne menekan Haji Naipin (Guru Si Pitung) untuk membuka rahasia kesaktian si Pitung berupa “jimat” sehingga Hinne dapat menangkap Si Pitung secara lebih cepat.

Versi lainya menyatakan bahwa Pitung dikhianati oleh temannya sendiri (kecuali Dji-ih) walaupun versi ini diiragukan kebenarannya.

Tetapi menurut Versi Film Si Pitung Banteng Betawi (1971) dikhianati oleh Somad yang memberi tahukan kelemahan Pitung untuk mengambil “jimatnya”.

Kisah lainnya menyatakan bahwa Pitung telah diambil “Jimat Keris”-nya sehingga kesaktiannya menjadi lemah. Versi lainnya mengatakan bahwa kesaktian Pitung hilang setelah dipotong rambut, dan juga versi lain mengatakan bahwa kesaktiannya hilang karena sesorang melemparkan telur.

Akhirnya Pitung meninggal karena luka tembak Hinne (Berdasarkan versi Film Si Pitung, Pitung mati tertembak karena peluru emas). Sesudah Si Pitung meninggal, makamnya dijaga oleh tentara karena percaya bahwa Si Pitung akan bangkit dari kubur.

Pitung dipercaya memiliki sejumlah ajian sakti selain jago maen pukul alias berkelahi. Konon, ia memiliki ajian Rawa Rontek (ajian yang membuat dirinya kembali bugar dan hidup lagi selama menyentuh tanah, meski sudah meninggal atau sekarat); ajian Halimunan (ajian yang membuat kehadirannya seolah tak tampak oleh orang lain alias menghilang); dan ajian Pancasona (ajian yang membuatnya kebal).

Pitung..., Antara Legenda dan kenyataan....!!!
“Ketiga ajian itu diperoleh Pitung ketika belajar maen pukul dan agama pada Haji Naipin di Pondok Pesantren Menes, Kampung Rawa Bebek, Banten,” kata Umar Salbini, seorang pekerja seni Betawi yang diwawancara Windoro Adi untuk bukunya, Batavia 1740: Menyisir Jejak Betawi (2010).

Wajar saja bila tak ditemukan keseragaman atas sosok Pitung. Sosok ini memang sulit dicari kebenaran sejarahnya. Kata Windoro Adi, dari mulut ke mulut riwayat Pitung berubah. Kebenaran sejarah kemudian jadi tak penting lagi.

Yang utama, bagi masyarakat Betawi, mengabadikan keberpihakan Pitung pada kaum miskin yang tertindas. Budayawan Betawi Ridwan Saidi dikutip Windoro, malah mengartikannya sebagai cara masyarakat asli Betawi yang mulai terpinggirkan di era 1970-an dengan menghadirkan sosok pahlawan Betawi.

Berdasarkan tulisan Jali Jengki, yang dikutip Windoro, Pitung lahir di Pos Pengumben, Sukabumi Ilir, Rawa Belong, Jakarta Barat tahun 1864. Pitung adalah bungsu dari 4 bersaudara pasangan Piun-Pinah.

Piun berasal dari Cikoneng, Banten, sedang Pinah dari desa Singapura, Kecamatan Celancang, Cirebon Utara. Pinah memounyai adik bernama Ji’ih yang tinggal di Kemandoran, Rawa Belong. Di kemudian hari, Pitung dan Ji’ih jadi sepasang jagoan yang tak terpisahkan.

Pitung tumbuh di daerah Rawa Belong yang dikenal sebagai arena para jagoan mengadu dan mengembangkan ilmu maen pukul. Saat remaja, ia belajar tarekat di Pecenongan pada Sapirin bin Usman bin Fadli. Ia kemudian belajar silat Cimande Sera pada Haji Naipin.

Pitung..., Antara Legenda dan kenyataan....!!!
Usai berguru, Pitung kembali ke rumah orangtuanya dan bekerja sebagai penunduh (penebas buah-buahan milik warga). Hasilnya ia jual ke pasar Rawa Belong.

Aksi si Pitung dimulai saat sepulang dari pasar Tanah Abang, Jakarta Pusat, uang hasil penjualan kambing yang dibawa Pitung dirampas kelompok Daeng Marais alias Rais, Jawara Legoa berdarah Bugis. Pitung, dibantu Ji’ih melawan dan mengalahkan Rais dan keempat kawannya.

Kemudian, setelah Pitung dan Ji’ih mengalahkan Rais dan keempat kawannya, Pitung diminta memimpin mereka. Ketujuh pemuda ini kemudian bertukar ketrampilan beladiri.

Selain Pitung, Ji’ih, dan Rais, mereka adalah: Abdulrahman peranakan Arab (dari Yaman Selatan) asal Krekot, Mat Jebul marbut di Cawang, Jakarta Timur, Tocang Gering peranakan Tionghoa asal Kampung Dadap, Tangerang, serta Mujeran pemuda Depok murid Haji Majid yang juga kawan Haji Naipin, guru Pitung dan Ji’ih.

Nah, dari sini, muncul anggapan Pitung sebetulnya bukan nama asli. Si Pitung bukanlah nama orang, tapi nama kelompok, yaitu kelompok tujuh. Dalam bahasa Jawa Cirebon-Banten, pitung berarti “pitungan” atau “bertujuh”.

Pitung..., Antara Legenda dan kenyataan....!!!
Pemimpin mereka adalah Salihun, anak pasangan Piun-Pinah. Salihun inilah yang kemudian lebih dikenal sebagai si Pitung. Meski begitu, dalam setiap aksinya, setiap anggota kelompok tujuh mengaku bernama Pitung.

Surat kabar Hindia Olanda dan harian Lokomotief, yang dikutip Margaret van Till, mencatat aksi kelompok Pitung berlangsung selama 16 bulan, dari tanggal 26 Juni 1892 sampai 19 Oktober 1893. Laporan pertama soal Pitung di koran Hindia Olanda menyebut Pitung dengan berbagai ejaan.

Awalnya Pitiung disebut sebagai “Bitoeng”, kali lain “Pitang” dan belakangan terus disebut “Pitoeng.” Koran HindiaOlanda edisi 18 Juli 1892 menyebutkan schout Tanah Abang menggeledah rumah “seorang Bitoeng” di desa Sukabumi, wilayah selatan Batavia. Kata “seorang Bitoeng” menunjukkan kalau Pitung adalah komplotan, bukan nama seseorang.

Aksi Pitung membuat kompeni kerepotan. Pemerintah Hindia Belanda kemudian membuat sayembara, barang siapa bisa menyerahkan Salihun alias si Pitung bakal dihadiahi 400 gulden.

Kelompok Pitung kemudian menyingkir ke Marubda, Cilincing, Jakarta Utara. Di sana, mereka merampok rumah pangung milik tuan tanah asal Bugis, Haji Safiuddin. Nah, rumah tuan tanah ini yang kemudian dikenal sebagai rumah si Pitung dan membuat salah kaprah kalau sang jagoan Betawi itu berasal dari Marunda.

Pitung..., Antara Legenda dan kenyataan....!!!
Di rumah panggung itu Pitung dan kawan-kawannya tinggal sementara. Pada masa persembunyian, Pitung jatuh hati pada Aisyah, gadis Kali Baru, putri seorang guru silat, Abdul Halim. Pada ayah Aisyah ini, Pitung belajar silat Syahbandar.

Komplotan si Pitung mulai cerai berai di akhir 1893. Ada yang tewas, ada yang berhasil lolos. Pada Oktober 1893, van Hinne mengendus jejak Salihun di Kota Bambu, Tomang. Salihun lari ke pamakaman Tanah Abang.

Van Hinne terus menembakinya hingga ia tersungkur. Salihun tewas Sabtu, 17 Oktober 1893, pada usia 29 tahun. Hari berikutnya, Minggu, pukul 17.00, ia dimakamkan di Kampung Baru. Versi lain menyebutkan, ia dimakamkan di Jalan Kemuning, Kota Bambu, Tomang, Jakarta Barat.

Ada pula yang menyebut makamnya ada di bawah rerimbunan pohon bamboo di Jalan Kebayoran Lama, Jakarta Selatan, di depan kantor Telkom. Ada juga yang menyebut Pitung dimakamkan di hutan Jatijajar, Tapos, Depok.

Pitung..., Antara Legenda dan kenyataan....!!!
Banyak yang percaya, Pitung sejatinya kebal. Yang bisa menewaskannya hanya peluru emas. Pitung juga dipercaya bisa bangkit lagi setelah mati.

Dalam salah satu rancak (pantun) Betawi tentang kematian Pitung menyebut kuburan Pitung dijaga pagi-siang-malam. “Kabarnya jago Pitung, dalam kuburan idup lagi” tapi setelah digali karena penasaran “Dilongok dikeker, bangkenye masi ade.”

Untuk merayakan kemenangannya van Hinne menggelar pesta besar “tuju ari tuju malem.”

Pasca kematian Salihun alias Pitung maupun komplotannya, perlawanan masyarakat Betawi tak surut.

Seperti dicatat Pramoedya di Rumah Kaca, sisa-sisa gerombolan si Pitung terdapat di Cibinong, Cibarusa, dan Cileungsi, masih dalam kawasan Betawi dan Buitenzorg (Bogor). Polisi Hindia Belanda berhasil menangkap 300 perusuh. Di antara mereka, 8 orang pemimpin gerombolan kebal peluru.


Indonesia | Semua Tentang Indonesia

Share on Google Plus

About Poerwalaksana M.Djayasasmita

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment