Indonesia

Indonesia

Inggit Garnasih, pendamping Soekarno saat susah....!!!

Inggit Garnasih, pendamping Soekarno saat susah....!!!
Ketika itu, Soekarno muda yang masih berstatus sebagai mahasiswa di Technische Hogeschool (Institut Teknologi Bandung) merasa jatuh cinta pada Inggit Garnasih (Ibu kos Soekarno) yang usianya terpaut 13 tahun lebih tua. 

Gayung bersambut, Inggit yang saat itu telah berstatus sebagai istri dari Sanusi, juga terpikat pada pembawaan Soekarno yang cerdas dan menyenangkan. Atas restu dari suaminya, Inggit diceraikan dengan syarat.

Kau kuceraikan, asalkan kau menikah dengan Soekarno. Jika ada sesuatu yang terjadi, kau boleh kembali padaku”.

Sanusi menyadari bahwa Soekarno akan menjadi seorang yang besar. Untuk itu, Soekarno muda membutuhkan seorang pembimbing yang tiada lain adalah Inggit Garnasih.

Keputusan menikah dengan Soekarno pasca-bercerai dengan Haji Sanusi telah dipikirkan secara masak oleh Inggit Garnasih. Inggit sadar tak akan mendapat kemewahan dari Soekarno yang saat itu masih berstatus sebagai mahasiswa dan belum bisa bekerja, apalagi memberikan materi yang berlebih seperti yang diberikan Sanusi kepadanya.

Inggit harus membanting tulang dan memutar otak untuk mencukupi kebutuhan mereka berdua. Kepandaian Inggit menjahit pakaian, menjual kutang, bedak, rokok, meramu jamu, dan menjadi agen sabun dan cangkul kecil-kecilan terus dimanfaatkan untuk mencari uang.

Inggit Garnasih, pendamping Soekarno saat susah....!!!
Perjuangan Inggit Garnasih tidak hanya sebatas materi. Beliau yang tulus memberi, mengangkat jiwa Soekarno ketika hampir jatuh menyerah. Beliau yang rela berjalan kaki berkilo-kilo meter dari rumahnya (Sekarang Jl. Inggit Garnasih atau Jl. Ciateul) menuju penjara Sukamiskin untuk mengantarkan buku-buku dan berita-berita pergerakan pada Soekarno.

Bahkan ketika Soekarno tidak mampu melaksanakan tugasnya mencari nafkah (saat diasingkan), Inggit Garnasih tetap bekerja keras membuat jamu dan bedak untuk membiayai hidup mereka dan anak angkat mereka, Ratna Juami.

Keberhasilan Soekarno menamatkan studinya di THS pada 1926, membuat Inggit senang tak terkira. Bagi Inggit, kesuksesan Soekarno meraih gelar insinyur merupakan salah satu bukti keberhasilannya mendampingi Soekarno.

Namun, keberhasilan meraih gelar insinyur itu tak dimanfaatkan Soekarno untuk meraih pekerjaan dari pemerintah Belanda. Soekarno kukuh aktif di bidang politik dan mendirikan Perserikatan Nasional Indonesia (PNI) pada 4 Juli 1927 yang kemudian berubah nama menjadi Partai Nasional Indonesia (PNI) pada Mei 1928. Soekarno hidup miskin karena lebih suka berpolitik daripada mencari uang.

Inggit Garnasih, wanita setia pendamping Soekarno saat susah
Berkat dukungan penuh Inggit, Soekarno berhasil menjadikan PNI sebagai partai garis depan di era 1920-an. Kader PNI terus bertambah dengan pesat sejak 1929. Inggit dengan sabar mendampingi dan menerjemahkan perkataan Soekarno dalam tiap pidatonya ke bahasa Sunda saat itu.

Tak hanya itu, Inggit selalu memberi semangat kepada Soekarno saat menghadapi kesulitan. Dia juga selalu menyediakan makanan, minuman, dan jamu-jamuan agar Soekarno selalu sehat.

Inggit Garnasih, pendamping Soekarno saat susah....!!!
Perjuangan PNI yang kian progresif ternyata mengganggu Belanda. Soekarno dan PNI dituduh akan melakukan revolusi. Dia akhirnya ditangkap pada 29 Desember 1929 dan dijatuhi hukuman 4 tahun. Soekarno kemudian dipenjara selama 8 bulan di Penjara Banceuy, Bandung, kemudian dipindahkan ke Penjara Sukamiskin.

Di penjara, Soekarno merasa terperangkap dengan keadaan. Dia merasa kesepian dan mengalami kerapuhan yang luar biasa. Namun, hal itu bukan justru membuat Inggit meninggalkannya.

Meski jarak rumah dengan Sukamiskin adalah 20 km, Inggit tetap datang mengunjungi suami tercintanya. Terkadang Inggit harus berjalan kaki karena tak memiliki cukup uang untuk membayar delman. Inggit yang kerap datang bersama Ratna Juami atau Omi (anak angkat Soekarno dan Inggit) selalu membawakan makanan kegemaran Soekarno, rokok dan jamu kesehatan.

"Waktu aku melihat Koesno (panggilan kesayangan Soekarno oleh Inggit), inginnya aku merangkulnya, memeluknya. Tapi pelbagai hal menghalangi kami. Aku cuma mampu mengucapkan kata-kata 'Apa kabar?' Suaraku terasa rendah. Barangkali akan mengelus hati setiap orang yang mendengarnya. Tapi bagaimana pun aku mampu menahan diri, untuk tidak menangis, juga untuk tidak berlinang air mata," kata Inggit dalam buku 'Biografi Inggit Garnasih: Perempuan Dalam Hidup Sukarno' karya Reni Nuryanti, terbitan Ombak.

Berbagai cara dilakukan Inggit untuk meringankan beban Soekarno, salah satunya adalah menyelipkan sejumlah uang dalam makanan, agar Soekarno mendapat keistimewaan sebagai tahanan. Dengan uang itu, Soekarno dapat membujuk penjaga untuk membelikannya koran dan membaca buku di perpustakaan.

Inggit Garnasih, pendamping Soekarno saat susah....!!!
Selain itu, Inggit juga menyelundupkan buku-buku yang diinginkan Soekarno. Untuk memasukkan buku tersebut ke penjara, Inggit harus berpuasa selama tiga hari agar buku-buku tersebut dapat diselipkannya di perut. Meski dirundung kesedihan, hal itu tak tampak di wajah Inggit.

Inggit tak pernah mengeluhkan kesulitan yang dihadapinya ke Soekarno. Wanita tangguh itu terus membanting tulang untuk memenuhi kebutuhannya, Omi, dan Soekarno. 

Rasa frustasi yang kian dialami Soekarno membuat Inggit sedih. Wanita tangguh itu akhirnya memberikan Soekarno Alquran agar bisa menentramkan jiwanya. Akibat Alquran pemberian Inggit inilah Soekarno akhirnya dapat lebih mengenal Islam di Sukamiskin.

Pembubaran PNI pada 1930 membuat jiwa Soekarno terguncang. Sebagai seorang istri, Inggit tak tega melihat pujaan hatinya terpuruk dalam kesedihan. Dengan segenap hati, Inggit menghibur dan berusaha selalu ada untuk Soekarno.

Setelah bebas dari penjara pada 1931, Soekarno langsung kembali ke dunia politik dengan bergabung ke Partai Indonesia (Partindo) pada 1 Agustus 1932. Namun, hal itu tak menjadi masalah bagi Inggit. Sebab, ia tahu pria yang dicintainya itu memiliki jiwa di bidang itu. Kesibukan Soekarno berkeliling daerah semakin membuat Inggit memeras keringat. Inggit bahkan rela menjual perhiasan dan sebidang tanah miliknya.

Namun, aktivitas politik Soekarno kembali membuatnya ditangkap Belanda pada 1 Agustus 1933. Saat itu, Soekarno dituduh melakukan subversif. Soekarno akhirnya dibuang ke Ende (Flores) pada Februari 1934. Inggit dengan setia menemani Soekarno bersama dengan Ibu Amsi (ibu kandung Inggit) dan Omi.

Inggit Garnasih, pendamping Soekarno saat susah....!!!
Di Ende, Inggit tak tega melihat Soekarno mengalami guncangan hebat. Kondisi psikologis Soekarno yang labil dirasakan sebagai pukulan berat oleh Inggit. Dengan sabar Inggit menyemangati Soekarno. Namun, ujian berat kembali datang kepada Inggit. Ibunda tercinta, Ibu Amsi, meninggal dunia pada Oktober 1935. Hal itu menjadi pukulan berat bagi Inggit dan Soekarno.

Namun, Inggit berusaha tabah dan membimbing Omi dan Soekarno agar tabah menerima. "Memang aku ajari mereka untuk tidak menangis jika ada yang meninggal," kata Inggit.

Selang berapa lama, kondisi Soekarno membaik. Soekarno mulai aktif di organisasi Muhammadiyah di Ende. Soekarno juga kembali menyalurkan bakat seninya dengan melukis dan sandiwara. Hobi tersebut tentu saja membutuhkan biaya yang tak sedikit. Namun, hal itu tak menjadi halangan bagi Inggit agar kesedihan sang suami hilang. Selain berjualan, Inggit juga sampai-sampai merelakan perhiasan yang diberikan oleh Sanusi saat mereka bercerai.

Inggit kembali dilanda kesedihan saat Soekarno terkena malaria. Dia tak tahan melihat pria kesayangannya tak berdaya akibat sakit yang dideritanya. Hal itu mengakibatkan Soekarno dan keluarganya akhirnya dipindahkan Belanda ke Bengkulu pada 1938 setelah didesak Mohammad Husni Thamrin.

Di Bengkulu, Soekarno dan Inggit hidup layaknya orang kebanyakan. Soekarno boleh bekerja di bidang arsitek dan diizinkan menjalin kontak dengan ormas Muhammadiyah. Namun demikian, Soekarno tetap harus meminta izin kepada Belanda jika hendak bepergian.

Inggit menjadi tempat berkeluh kesah Soekarno di Bengkulu. Sikap warga yang dinilai Soekarno sangat konservatif dalam menjalankan agama dan menutup perkembangan zaman kerap dikeluhkan oleh Soekarno kepada Inggit. Mendapat keluhan itu, Inggit hanya mendengar dan memberi jawaban yang menenangkan dan menyenangkan hati suaminya.

Inggit Garnasih, pendamping Soekarno saat susah....!!!
Berbeda dengan di Flores, di Bengkulu Soekarno dan Inggit dipandang sebagai kaum intelek oleh warga. Soekarno bahkan aktif mengikuti diskusi dengan ormas Muhammadiyah. 

Dia kemudian ditawari masuk ke Muhammadiyah. Hal ini ditandai dengan kunjungan Ketua Muhammadiyah setempat, Hasan Din, bersama putrinya, Fatmawati, ke rumah Soekarno. 

Sayangnya, Allah tidak pernah menakdirkan Inggit untuk memiliki keturunan. Hal itu yang menjadi penyebab guncangnya rumah tangga mereka..

“Saat itu Soekarno adalah seorang pria dewasa yang sangat ingin memiliki keturunan. Presiden pertama kita itu seorang Cassanova yang serius mencintai banyak wanita”.

Dalam pengasingan di Bengkulu, Soekarno dan Inggit mengangkat Fatmawati sebagai anak untuk menemani Ratna Juami bersekolah. Fatmawati yang saat itu masih muda, ternyata menarik perhatian Soekarno dalam usianya yang matang. Didasari keinginan untuk memiliki keturunan, Soekarno meminta izin pada Inggit untuk menikahi Fatmawati.

Inggit Garnasih, pendamping Soekarno saat susah....!!!
Pantang bagi Inggit untuk dimadu!
Dengan berat hati beliau meminta diceraikan dan memutuskan kembali ke Bandung, ke rumahnya. Melanjutkan hidup dengan sederhana, berjualan jamu dan bedak yang diraciknya sendiri.

Sampai akhir hayat menjemput Soekarno, Inggit Garnasih masih mencintainya dengan tulus, tanpa pamrih, dengan sepenuh hati..

Engkus.. geningan Engkus teh miheulaan.. ku Inggit di doakeun”.

Dengan linangan air mata, tubuh rentanya menatap Soekarno yang terbujur kaku dalam peti mati..
mendahuluinya pergi untuk selamanya..

Itulah cinta sejati, cinta seorang Inggit Garnasih pada Soekarno..

Cerita diatas dituturkan dengan senang hati oleh Bapak Tito Z.A, cucu Soekarno, anak dari Ibu Ratna Juami. Beliau sangat menghargai siapapun yang bersedia mencari kisah dibalik sejarah. Beliau akan sangat bahagia jika nama Inggit Garnasih dikenal dan dikenang oleh anak bangsa ini. 

Inggit Garnasih, pendamping Soekarno saat susah....!!!
Karena bagi beliau, sosok Soekarno tidak akan pernah ada tanpa seorang Inggit. Sayangnya, seingatku kisah Inggit tidak pernah terpublish di buku-buku paket sejarah karena sudah dijejali dengan kepentingan politik.

Kisah Ibu Inggit baru mencuat ketika Bapak Tito melakukan gertak sambal. Sebagai ahli waris, beliau “mengumumkan” bahwa surat nikah dan surat cerai asli Soekarno-Inggit akan dilepas pada pemerintah Belanda yang telah menawar masing-masing surat dengan harga 2 Milyar. 

Bagi pemerintah Belanda, Soekarno merupakan sosok yang luar biasa. Surat-surat asli dan barang-barang peninggalan Soekarno-Inggit merupakan aset sejarah, bukti nyata yang tak ternilai.

Kisah manis Ibu Inggit terekam dalam buku lama “Kuantar Kau ke Gerbang” karya Ramadhan K.H (kini dicetak ulang). Sementara benda-benda peninggalan Ibu Inggit Garnasih bisa dilihat di museum Inggit Garnasih Jl. Inggit Garnasih (Ciateul) No.8 Bandung.

Share on Google Plus

About Poerwalaksana M.Djayasasmita

Poerwalaksana is a freelance web designer and developer with a passion for interaction design, Business Enthusiast, Start Up Enthusiast, Speaker and Writer. Inspired to make things looks better.

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment