Indonesia

Indonesia

Inilah Observatorium Tertua di Indonesia....!!!

Inilah Observatorium Tertua di Indonesia....!!!
Observatorium adalah bangunan yang ditujukan untuk mengamati langit dan bumi dalam disiplin ilmu astronomi, meteorologi, geologi, oseanografi dan vulkanologi. 

Namun dalam prakteknya nama observatorium lebih sering disematkan kepada bangunan yang dikhususkan untuk mengamati benda-benda langit dan peristiwa-peristiwa langit sekaligus mencatatnya. 

Maka observatorium berbeda bila dibandingkan dengan proto-observatorium, dimana yang terakhir ini lebih merujuk kepada bangunan multifungsi yang juga berperan sebagai pos observasi benda langit, baik secara rutin maupun sesekali.

Observatorium tertua di Indonesia (dan bukan proto-observatorium) adalah observatorium Mohr. Dinamakan demikian sebab observatorium ini merupakan milik pribadi seorang Johann Mauritz Mohr (1716-1775), ilmuwan Belanda yang juga pendeta Kristen, yang tinggal di Batavia pada masa kekuasaan VOC. 

Observatorium yang dibangun di atas tanah pribadi Mohr di Mollenvliet (kini Glodok, Jakarta Barat) berdampingan dengan wihara Kim tek I atau Cin te Yuen/Jinde Yuen (kini wihara Dharma Bhakti, Glodok) berbentuk menyerupai bagian depan observatorium Uraniborg (Denmark), tempat kerja astronom Tycho Brahe dua abad sebelumnya, namun dalam skala lebih kecil dan lebih diperkuat.

Inilah Observatorium Tertua di Indonesia....!!!
Observatorium itu berupa bangunan enam lantai yang adalah bangunan tertinggi di Batavia, dengan puncak atap datarnya setinggi 30,5 meter dari permukaan tanah serta memiliki panjang 22,5 meter dan lebar 17,5 meter. 

<<< Observatorium Mohr tampak dari jauh (Koleksi Perpustakaan Nasional)

Ongkos pembangunannya mencapai 200.000 gulden, hampir dua kali lipat lebih mahal dibanding ongkos pembangunan istana Gubernur Jenderal VOC di Buitenzorg (kini istana Bogor). 

Kemegahannya menjadi buah bibir di Batavia, bahkan dalam dunia ilmiah internasional. Sehingga jalan penghubung observatorium dengan jalan raya Mollenvliet Barat (kini Jalan Gajah Mada) pun dinamakan torenlaan atau gang Torong dalam istilah lokal.

Observatorium Mohr dilengkapi dengan instrumen astronomi terbaik pada masanya. Di antaranya jam astronomik setinggi 180 cm dengan lebar 43 cm, sepasang globe berdiameter 60 cm, kuadran astronomik bergaris tengah 60 cm, instrumen equal-altitude (teodolit?) selebar 60 cm, mesin paralaktik, oktan laut sepanjang 76 cm, teleskop sepanjang 550 cm, pluviometer (pengukur curah hujan), anemometer dan kompas. 

Observatorium Mohr dibangun sejak 1765 dan berfungsi hingga sepuluh tahun kemudian. Selama masa itu dilakukan berbagai observasi langit dan sejumlah fenomena alam, diantaranya Jupiter dan satelit-satelitnya, transit Venus 4 Juni 1769, transit Merkurius 10 November 1769, curah hujan Batavia, dinamika angin dan deklinasi magnetik Batavia. 

Inilah Observatorium Tertua di Indonesia....!!!
Tiadanya dukungan VOC, terutama lewat Gubernur Jenderal van de Parra, membuat hanya laporan transit Venus dan Merkurius saja yang sempat terpublikasikan secara luas. 

Bagaimanapun, aktivitas Mohr menginspirasi terbentuknya Batavia Society of Arts and Sciences (Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen) pada 1778.

Aktivitas observatorium Mohr harus terhenti setelah Johann Mauritz Mohr wafat pada 25 Oktober 1775. 

Tidak ada yang melanjutkan kinerja observatorium ini. Pada 1780, bangunan observatorium rusak berat setelah diguncang gempa kuat yang menghancurkan sebagian Batavia. Kemalangan bertambah lagi dengan wafatnya istri Mohr pada Mei 1782. 

Namun sebelum wafat, istri Mohr telah menjual instrumen observatorium kepada Johanes Hooijman, yakni pada tahun 1776, dalam kondisi sebagian besar rusak oleh tingginya kelembaban udara Batavia. Hooijman mengirimkannya kembali ke Belanda untuk diperbaiki dan kini sejumlah instrumen itu terpampang pada beberapa museum di Belanda.

Pada Juni 1782, bangunan yang telah rusak itu dijual dan selanjutnya pada 1784 beralih lagi ke tangan Willem Vincent van Riemsdijk dari keluarga Gubernur Jenderal Hindia Belanda Jeremias van Riemsdijk. 

Riemsdijk mengubah bangunan itu menjadi penginapan murah sebelum kemudian Gubernur Jenderal Daendels, yang dikenal akan kekejamannya, menutupnya dan mengubahnya jadi barak tentara. Sebagian bangunan itu masih tersisa hingga 1812, namun pada 1844 hanya tinggal pondasinya saja yang masih terlihat.

"Observatorium Mohr hanya disebutkan terletak di Glodok masa kini, namun dimana posisi sesungguhnya jejak itu tidak jelas".
Share on Google Plus

About Poerwalaksana M.Djayasasmita

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment