Indonesia

Indonesia

Ganes TH, sang komikus Indonesia...!!!

Ganes TH adalah seorang komikus Indonesia terkenal.  Ia merupakan salah satu tonggak kejayaan komik Indonesia. Pada masanya Ganes TH merupakan salah satu dari “tiga dewa komik Indonesia” bersama dengan Jan Mintaraga dan Teguh Santosa. Kisah dalam komik-komiknya begitu memikat hati pembaca komik Indonesia di era tahun 1970 sampai 1980-an.

Ganes TH menciptakan tokoh "Si Buta Dari Gua Hantu" yang menjadi trade mark-nya dan merupakan tokoh komik lokal yang paling populer sepanjang masa. Komik "Si Buta Dari Gua Hantu" adalah komik silat Indonesia pertama.

Terbitan perdananya langsung "meledak" sehingga komik Indonesia seperti dilanda demam silat, sehingga banyak komikus lain yang mengekor di belakang kesuksesan Si Buta. 

Kabarnya komik seri ini dicetak hingga ratusan ribu eksemplar. Ia juga menciptakan beberapa tokoh lain di samping tokoh si Buta Dari Gua Hantu.

Ganes TH dengan "Si Buta Dari Gua Hantu" bersama dengan Jan Mintaraga dan Teguh Santosa merupakan salah satu ikon puncak sejarah panjang komik Indonesia yang telah mencatat nama Ganes TH sebagai salah satu legenda komikus Indonesia. Ganes TH sudah tutup usia di th. 1995 pada usia 60 tahun.





Komik Ganes TH  th.1970 an  "Tuan Tanah Kedawung"  
Dibawah ini adalah sebuah kesan dan komentar dari seorang pembaca Komik Ganes TH  berjudul "Tuan Tanah Kedawung" ini: Membaca komik Ganes TH. Tuan Tanah Kedawung, adalah bagaikan pergi ke sebuah dunia yang asing tapi akrab bagi saya, dunia penuh gelap, dunia kampung Betawi di era th.1970-an. Perasaan itu yang terbangkitkan pada saya, ketika memandang lukisan cover komik Tuan Tanah Kedawung ini. Lukisannya dibuat oleh Ganes TH sendiri.

Ciri-ciri Ganes yang menonjol, seperti wajah yang agak lonjong, hadir kuat di sini.                                       Dari sampul nya, jelas bahwa ini bukan komik untuk anak-anak. Tombak dan keris yang dengan jelas mencucurkan darah. Kedua tokoh jelas pula latar etnik mereka, dilihat dari baju yang mereka pakai. Ada pun tubuh-tubuh tersungkur itu berkostum pasukan ”Kompeni”. Saya merasa seperti dibawa ke sebuah dunia lain.
Dan demikianlah yang dilakukan oleh komik-komik terbaik: membawa pembacanya ke dunia lain. Waktu itu, saya tinggal di pinggiran Jakarta – th.1970-an.

Dunia nyata saya masih di kelilingi tanah lapang dan kebun luas, dengan pohon-pohon berbatang besar dan daun rimbun.  Listrik belum merata (atau belum masuk?). Saya sempat mengalami jaman masih memakai lampu petromaks dan lampu semprong".
Share on Google Plus

About Poerwalaksana M.Djayasasmita

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment