Indonesia

Indonesia

Kecamuk Perang Jawa....!!!

Kecamuk Perang Jawa....!!! - http://indonesiatanahairku-indonesia.blogspot.com/
Suratan tragis Sang Pangeran yang hidup di zaman edan.

“Inilah bekas ladang pembantaian,” ujar Ki Roni Sodewo sembari memandang hamparan persawahan menghijau yang dikepung perbukitan karst di Desa Dekso. 

Lelaki kurus itu berdiri di tepian jalanan beraspal yang berkelok menuju kaki sebuah bukit. Sembari menunjuk bukit di depan kami, dia berujar, “Dipanagara dan prajuritnya berada di bukit itu.”

Desa itu pernah menjadi markas besar kakek moyangnya pada akhir 1825 hingga pertengahan 1826. Dia berkisah, di sekitar tempat kami berdiri, sekawanan serdadu Hindia Belanda Timur pernah terjebak. Mereka tewas dibantai laskar Dipanagara yang muncul tiba-tiba dari arah bukit dan lembah sungai di belakang kami, demikian menurut tradisi tutur warga Kulonprogo, barat Yogyakarta.

Nama sejatinya adalah Roni Muryanto Budi Santoso, keturunan ketujuh Pangeran Dipanagara. Sebagian turunan Sang Pangeran terserak di sisi barat Kali Progo, da­erah ge­rilya selama Perang Jawa. Kini, mereka melakoni hidup sebagai petani, guru, hingga pejabat pemerintah setempat. Demi mempersatukan kerabatnya yang tercerai-berai dan tak sa­ling kenal, dia mendirikan Ikatan Keluarga Pangeran Diponegoro (IKPD) sejak tujuh tahun silam.

Awal musim kemarau tahun ini, saya dan Ki Roni menapaki jalanan berliku di sepanjang tepi barat Kali Progo hingga kaki perbukitan Menoreh yang terjal. Kawasan yang sampai sekarang masih bertajuk hutan ini pernah menjadi pusat kekuatan dan medan pertempuran kakek moyangnya. Jika Dipanagara menjadikan perbukitan sekitar Kulonprogo ini sebagai lumbung pangan mereka, sekarang daerah ini berkembang sebagai salah satu kawasan agropolitan di Provinsi Yogyakarta.

Kakek moyang Ki Roni itu lahir di Keputren Keraton Yogyakarta pada Jumat Wage sekitar jam setengah lima pagi, 11 November 1785. Bayi lelaki itu bernama Bendara Raden Mas Mustahar. Anak dari pasangan putra sulung Sultan Hamengkubuwana II—yang kelak pada 1812 bertakhta sebagai Sultan Ketiga—dan istri tak resminya, Raden Ayu Mangkarawati. Konon, orang yang lahir pada Jumat Wage biasanya banyak bicara, namun hal yang dibicarakan tepat. Kelahiran kala fajar juga kerap dikaitkan dengan sosok peneroka zaman. 

Saat remaja, pada akhir 1805, namanya berganti menjadi Raden Antawirya. Gelar Pangeran Dipanagara disandangnya pada 1812. Pangeran itu memberikan pemaknaan atas namanya sebagai seorang yang menyebarkan pencerahan dan kekuatan bagi sebuah negara. “Dipanagara itu bukan nama orang,” ungkap Ki Roni. “Itu adalah gelar kepangeranan yang dipakai oleh para putra raja pada zaman dahulu.”

Babad Dipanagara yang tersimpan di Perpustakaan Nasional merupakan autobiogra­finya dalam aksara pegon (Arab gundul). Ditulis ketika pengasingannya di Fort Amsterdam, Manado. Namun, naskah yang saya saksikan itu bukan asli­nya. A.B. Cohen Stuart, ahli sastra Jawa kuno, menya­linnya pada 1860-an. Sayang, naskah asli yang disimpan keturunan Pangeran di Makassar itu sudah hancur. 

Kabar baiknya, salinan ini diakui UNESCO sebagai Memory of the World pada Juni 2013. Dalam tembang macapat, babad bercerita jujur tentang pribadi Dipanagara yang berbudaya dan beragama Islam-Jawa. Lebih jujur ketimbang buku biografi politisi sekarang yang konon penuh pencitraan.

Sekitar empat kilometer sebelah selatan Dekso, kami singgah di Desa Nanggulan. Pada musim hujan 1828, Belanda pernah mendirikan benteng besar di sini. Kami menjumpai makam serdadu Belanda yang berselubung semak di sudut permakaman desa. Ki Roni membersihkan semak yang menutupi prasasti  nisan dengan sabit kecil. Namanya, Kapten Hermanus Volkers van Ingen. “Seharusnya, meskipun milik musuh, kita harus merawatnya. Makam ini merupakan bagian sejarah,” ujar Ki Roni prihatin.“Kasihan Van Ingen.”

Seorang peneliti menemukan buku harian Kapten Errembault de Dudzeele et d’Orroir di pasar loak tepian Seine, Prancis. Errembault yang pernah bertugas bersama Van Ingen di Yogyakarta kala Perang Jawa, mengisahkan kemalangan koleganya. Kini, buku harian itu tersimpan di perpustakaan École Française d’Extrême Orient, Paris. “Kapten Van Ingen dan 32 serdadu Eropa tewas dalam pertempuran,” tulis Errembault. 

Dia melanjutkan, “juga seorang pangeran Yogyakarta yang telah meninggalkan para pemberontak dan telah mengabdi pada pihak kami selama setahun terakhir—bersama 12 prajuritnya. Empat belas orang turut terluka. Kedua meriam milik detasemen berhasil jatuh ke tangan musuh, namun hal itu tidak berlangsung lama.” Demikian kisah tragis Van Ingen pada 28 Desember 1828.

 “Peristiwa itu merupakan operasi militer yang bodoh sehingga menyebabkan dia tertangkap di hutan dekat Nanggulan dan dibantai dengan seluruh peleton infanterinya,” ungkap Peter Brian Ramsay Carey kepada saya dalam suatu  kesempatan. Berdasar isi prasasti makam Van Ingen, Carey memaparkan, “Dia pergi ke pertempuran bersama anjing Irish red setter-nya yang turut dikuburkan di samping makamnya.”

Carey merupakan salah satu sejarawan Inggris terkemuka. Pernah mengajar di University of Oxford sebagai Laithwaite Fellow untuk Sejarah Modern di Trinity College, Oxford, Inggris Raya. Kini dia menjadi Adjunct Professor di Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Indonesia. Selama 40 tahun terakhir, dia telah menyelisik sosok sejati Dipanagara. Buku karyanya yang berjudul The Power of Propechy: Prince Dipanagara and the end of an old order in Java terbit pertama kali pada 2007. Edisi dalam bahasa Indonesia me­nyusul pada 2012. Sebuah buku yang turut me­nyatukan kembali ”tulang-tulang yang ter­.pisah” wangsa Dipanagaran saat peluncurannya di puing-puing kediaman pangeran itu di Tegalrejo, Yogyakarta.

“Sosok perempuan sangat penting di dalam pendidikan Dipanagara,” ungkapnya kepada saya. Pangeran itu tidak tumbuh dewasa dalam keraton. Sejak usia tujuh tahun, dia dibesarkan dalam suasana pedesaan dan pesantren bersama eyang buyutnya, Ratu Ageng di Tegalrejo.

Sang eyang buyut itu pernah menjadi pang­lima laskar perempuan Keraton Yogyakarta. Beliau punya garis leluhur dari Sultan Bima di Sumbawa. Sosok perempuan lain yang memengaruhi karakter Dipanagara adalah Ratu Kedhaton, istri Sultan Kedua atau eyangnya, bergaris keturunan bangsawan Madura. Sementara ibundanya yang bukan berdarah biru, berasal dari Sukoharjo. “Semua sosok perempuan tadi adalah sosok perempuan dari anak kiai.”

“Dipanagara bukan orang Jawa,” ujarnya. “Dia orang Jawa dari ayahnya, tetapi dia punya trah dan darah seperdelapan Sumbawa dan seperempat Madura.”

 “Jika kita lihat penggede dalam sejarah Jawa,” kata Carey, “dari Erlangga, Jaka Tingkir, Ki Pamanahan, dan Senapati, sampai Dipanagara; semua lahir dan dibesarkan di areal desa. Mereka bersentuhan sekali dengan rakyat.” Pangeran tampaknya tak berjarak dengan rakyat. Dalam autobiografinya, kala melawat ke tanahnya di daerah selatan, dia selalu bersama rakyat supaya bisa berbarengan turun ke sawah memanen padi. Juga, dia kerap bepergian jauh—perjalanan ke Pantai Selatan dan Delanggu—dengan jalan kaki sambil menyamar sebagai kawula alit. “Itu mungkin mencerminkan realitas sekarang,” kata Carey. “Blusukan pemimpin.”

Kepada Letnan Dua Julius Heinrich Knoerle, perwira yang mengawalnya dalam pelayaran ke Manado, Dipanagara mengungkapkan kegemarannya menyesap ang­gur putih asal Constantia, Afrika Selatan—meski tidak berlebihan. Dalam percakapan itu tersingkap pula sisi feminitasnya, mungkin pengaruh sosok perempuan saat masa kecil. Selama perang dia sejatinya tidak tega untuk mengangkat senjata. Terhadap korban tewas bergelimpangan di kedua pihak, dia merasa pilu, bahkan, dia sampai menutup kedua matanya.

Mengapa Perang Jawa harus terjadi? Perang ini bukan karena pelebaran jalan yang memangkas tanah Pangeran, seperti yang pernah diajarkan dalam pelajaran sejarah di sekolah dasar. Bukan juga lantaran dia galau sebab tidak terpilih menjadi Sultan. Kabar apkiran itu sengaja didendangkan oleh pemenang perang untuk mengecilkan arti pemberontakan Dipanagara.

Kali pertama, menurut Carey, pemberontakan pecah di salah satu keraton Jawa Tengah bagian selatan, yang hakikat perkaranya disebabkan oleh problem sosial dan ekonomi ketimbang ambisi berkuasanya suatu wangsa.

Sejak penjarahan akbar di Keraton Yogyakarta oleh Inggris pada Juni 1812, kerajaan itu sebenarnya mulai bernaung dalam masa kolonial baru di Tanah Jawa. Dalam keadaan bangkrut, Belanda akhirnya kembali menguasai Jawa pada pertengahan 1816. Gelombang liberalisme masuk ke Jawa lewat persewaan tanah. Gaya hidup Eropa mulai memasuki Keraton Yogyakarta. Minuman keras, permainan asmara, hingga perselingkuhan antara orang Belanda dan para putri keraton kian marak. Belanda membuat Keraton mirip tempat pelacuran. Pun, hal yang membuat jengkel Dipanagara, seorang asisten residen—yang dikenal buaya darat—ternyata menjadikan istri tak resmi pangeran itu sebagai gundiknya selama berbulan-bulan. 

Belanda juga mengintervensi urusan domestik Keraton. Hubungan antara Dipanagara dan Belanda-Keraton kian tidak harmonis sejak keponakannya yang berusia dua tahun naik takhta menjadi Sultan Kelima pada 1822. Dilema penguasa Jawa, kedekatan dengan Belanda akan menguatkan kedudukannya, namun bakal menyulut perseteruan antarsaudara.

Belanda memperluas penerimaan pajak tak langsung yang dipungut oleh orang-orang Cina. Rakyat kian memikul derita tak terperi karena pajak rumah, pajak ternak, pajak panen, dan pajak gerbang tol. Kebencian terhadap orang Cina dan Belanda pun membuncah. Semua fenomena ini adalah akar dari Perang Jawa.

Perang Jawa pecah pada Rabu, 20 Juli 1825. Awal perang panjang dan melelahkan ini ditandai penyerbuan dan pembakaran kediaman Dipanagara di Tegalrejo oleh pasukan gabung­an Belanda-Keraton. Salah satu pemicunya, rencana pelebaran jalan yang memangkas pagar timur kediaman Sang Pangeran. Seorang serdadu Belanda berkisah, Sang Pangeran lolos dengan mengendarai kudanya.

Namun, sebuah stempel tertinggal di kediaman Dipanagara, bersama sejumlah uang. Stempel itu beraksara Jawa atas nama dirinya “Bendara Pangeran Arya Dipanagara”. Stempel yang siap digunakan itu tampaknya mengindikasikan bahwa Perang Jawa sudah disiagakan sejak lama. Lalu, Dipanagara membuat stempel baru beraksara pegon, “Ingkang jumeneng Kangjeng Sultan Ngabdul Khamid Erucakra Kabirul Mukminin Sayidin Panatagama Rasullahi s.a.w. ing Tanah Jawi”—“Dia yang dinobatkan menjadi Yang Mulia Sultan Ngabdulkamid Ratu Adil, Perdana di antara Kaum Beriman, Pemimpin Iman, Penata Agama, Nabi Allah, semoga damai bagi-Nya di Jawa.” Gelar “Ratu Adil” inilah yang menebarkan pesona dan harapan bagi rakyat dan petani.

“Perang Jawa itu sudah disiapkan selama 12 tahun,” ujar Saleh As’ad Djamhari. “Itu jihad perang suci. Cita-citanya membangun negara Islam atau balad Islam yang berdasarkan Quran. Itu kata Dipanagara sendiri dalam babad.”

Saleh merupakan sejarawan militer, purna­wirawan, dan pengajar di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Indonesia. Dia pernah mengkaji Stelsel Benteng dalam pemberontak­an Dipanagara. Buyut dari kakek buyutnya merupakan seorang pengikut Dipanagara yang seusai perang mela­rikan diri ke Malang, Jawa Timur.

Kami berbincang di beranda belakang rumahnya di Ciputat, Tangerang Selatan. Di beranda itu terdapat meja beralaskan salinan peta Jawa abad ke-19 dan sebuah suryakanta. Saleh telah memberi warna yang berbeda untuk tanah Kasultanan dan Kasunanan. “Dipanagara tidak mau memasuki wilayah Kasunanan Surakarta,” ujarnya sambil memegang suryakanta. “Begitu berada di wilayah tanah kasunanan, tentaranya segera meninggalkan kawasan itu.” 

“Dipanagara telah melakukan konspirasi dalam senyap dengan sabar, tertutup, dan rahasia.” Dia membentuk jaringan dengan para bekel, demang, bupati, ulama, santri, dan petani untuk menyusun kekuatan. Lewat dana sokongan dari para bangsawan dan perampasan konvoi logistik Belanda, dia menyiapkan pabrik mesiu di pinggiran Yogyakarta dan membeli bedil locok berpicu—mungkin buatan Prusia.

“Mereka menyerbu Yogyakarta, membuat kota itu menjadi wana bong-bongan—hutan api,” ungkap Saleh. Bersama 6.000 laskarnya, Dipanagara mengisolasi Yogyakarta dari segala penjuru pada 7 Agustus 1825, hingga sebu­lan lebih. Bahkan, Sultan Kelima diungsikan ke Fort Vredeburg. “Salah satu alasan mengapa Dipanagara tidak menyerbu keraton karena masih menghormati lembaga itu,” tuturnya.

Perang Jawa menjadi sejarah besar bukan sekadar biaya dan korbannya yang berjumlah fantastis, melainkan juga aspek politik-militer yang melingkupinya. “Problema kedaulatan, keinginan membentuk negara Islam, dan organisasi militer modern,” ujar Saleh.

Perang ini memberikan cita rasa baru dalam pertempuran bagi kedua pihak. Bagi orang Jawa, pertama kalinya mereka menggunakan orga­nisasi militer modern. Dipanagara mengadopsi nama-nama kesatuan militer dari sultan-sultan Turki Utsmani. Sementara bagi serdadu Belanda, pertama kalinya mereka menggunakan strategi benteng medan-tempur darurat.

Saleh menunjukkan, terdapat 14 kesatuan dalam laskar Dipanagara: Bulkiya, Barjumuah, Turkiya, Harkiya, Larban, Nasseran, Pinilih, Surapadah, Sipuding, Jagir, Suratandang, Jayengan, Suryagama, dan Wanang Prang. Hierarki kepangkatan juga beraksen Turki: alibasah setara komandan divisi, basah setara komandan brigade, dulah setara komandan batalion, dan seh setara komandan kompi.

Seperti Dipanagara, para laskarnya juga berserban dan mencukur habis rambutnya. Biasanya para laskar menyematkan jimat kebal di seragam atau serban. Saat ke medan tempur, mereka membawa panji-panji sembari berzikir.

Boleh jadi Perang Jawa adalah perangnya pemuda karena umumnya para basah berusia akhir belasan atau awal dua puluhan. Salah sa­tunya, lelaki ningrat berusia 17 tahun yang buta huruf bernama Abdul Mustapa Prawiradirja, berjulukan “Senthot”—artinya melesat atau susah ditebak. Sang Pangeran mengangkatnya sebagai basah, lalu melantiknya sebagai ali basah.

Para santri dan kiai turut berperan dalam Perang Jawa, dan inilah yang membuatnya berbeda dengan pemberontakan wangsa Mataram sebelumnya. Seorang ulama Pajang, Kiai Maja, bergabung dengan Dipanagara sebagai penasihat agama dan politik hingga 1828.

Akhir Juli 1825, Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock menjadi panglima tertinggi Nederlandsch-Oost-Indische Leger (Tentara Hindia Belanda Timur). Lelaki itu berusia 46 tahun, asal Heusden, Belanda. Istrinya, Luise Fredericke W.G. Baroness von Bilfinger tinggal di Batavia, menyusul ke Magelang dan wafat karena disentri pada November 1828.

Perang Jawa memaksa Belanda melakukan gencatan senjata dalam Perang Padri—yang meletus pada 1821—di Sumatra Barat. Menurut Saleh, De Kock tak hanya memanggil pasukan yang sedang memerangi Padri di Sumatra Barat, tetapi juga berbagai pasukan di Sulawesi, Kalimantan, Palembang, dan Bangka. Kelak, Selepas Perang Jawa, Belanda kembali dalam Perang Padri ronde kedua hingga 1837.

“Tentaranya bukan orang Belanda asli,” ujar Saleh. Pasukan tentara reguler—infanteri, kavaleri, artileri, dan pionir—terdiri atas orang Eropa dan pribumi. Diperkuat Hulptroepen yang merupakan kesatuan tentara pribumi dari Legiun Mangkunagara, barisan Mangkudiningrat, barisan Natapraja, Sumenep, Madura, Pamekasan, Bali, Manado, Gorontalo, Buton, dan Kepulauan Maluku. Kemudian, Jayeng Sekar, polisi berkuda yang direkrut dari setiap karesidenan. Lainnya: spion, petugas rohani Islam, kuli, pelayan, koki, dan tukang cuci.

Berbagai operasi militer tidak memberikan kemajuan bagi Belanda, karenanya De Kock mengambil strategi baru. Sejak Mei 1827, Stelsel Benteng diterapkan yang diperkuat pasukan ge­rak cepat. Arsiteknya adalah Kolonel Frans David Cochius, perwira zeni se­nior. Usai Perang Jawa, namanya diabadikan sebagai benteng bersegi delapan di Gombong, Jawa Tengah. Seperti apa purwarupa Stelsel Benteng?

“Benteng yang dimaksud adalah benteng medan,” ujar Saleh, “Bukan fort.” Pertahanan itu cukup ekonomis karena menggunakan sumber daya setempat. Sebuah bangunan persegi dan berpagar batang pohon kelapa setinggi 2,5 meter. Dua sudutnya dibangun bantalan tempat meriam. Hanya gudang mesiu yang dibangun berbatu bata. Sifatnya darurat, benteng-benteng itu bisa ditinggalkan kapan saja, mengikuti gerak pengepungan. “Benteng tidak terpaku dalam satu wilayah statis, tetapi dinamis.”

Selain biayanya besar, Benteng Stelsel membuat durasi perang kian lama, lantaran para penghuni benteng itu bukan hanya tentara. Para serdadu pribumi membawa anak-istri­nya yang melambatkan laju militer Hindia Belanda.

Perang ini juga telah membuktikan ketang­guhan orang Jawa dalam bertahan hidup. Saleh mengatakan, santapan mereka adalah jadah (penganan dari ketan), umbi-umbian, labu-labuan, buah, dan ikan asin. “Belanda mencegah pembuatan garam,” ujar Saleh. “Coba saja Anda sehari tidak pakai garam. Lemas dan kram!”

Jadah juga menjadi menu serdadu Hindia Belanda Timur, ujarnya, selain ternak warga. Para serdadu juga wajib menanam umbi-umbian di desa taklukan. Sumber lain menyebutkan, mereka menyantap roti, sup, sagu, nasi, sambal, juga merpati yang mudah ditemui di Jawa. Pelepas hausnya: kopi, teh, dan anggur merah.

Manuver De Kock untuk menjepit Dipanagara di hutan Kulonprogo, justru membuat Pangeran dapat menghimpun kekuatannya kembali. Kawasan itu ternyata memberikan pasokan pangan yang melimpah dan rakyat yang loyal. “Rakyat sebelah barat Bogowonto itu sudah berpihak kepada Dipanagara,” ujar Saleh. “Bagi mereka, Sultan adalah Dipanagara.”

Sang Pangeran mendeklarasikan diri sebagai “Sultan Ngabdulkamid Erucakra Sayidin Panatagama Khalifat Rasulullah” pada Agustus 1825. Sejak saat itu dia memilih disapa dengan Ngabdulkamid. Dia menyerukan untuk membinasakan orang Belanda dan Cina di Tanah Jawa, jika mereka tidak bersedia menganut Islam. Dia selalu melihat bahwa orang Cina merupakan sumber penindasan perekonomian Jawa, dan pendapat ini berlaku sampai akhir perang. Pembantaian warga pecinan yang dilakukan laskar­nya bukan hal garib pada awal perang.

Politik segregasi menjadi karakter Perang Jawa. Salah satu pembantaian sadis dilakukan oleh Raden Ayu Yudakusuma, anak perempuan dari Sultan Kedua. Dia merupakan komandan pembantaian warga Cina—termasuk perempuan dan anak-anak—di Ngawi pada September 1826. Akhir tahun berikutnya, Raden Tumenggung Aria Sasradilaga, ipar Dipanagara, membantai warga pecinan di Lasem dan menjamahi perempuan Cina secara paksa—pemerkosaan.

Hubungan Jawa dan Cina bagai pasang-surut air laut di negeri ini. Sebelum Perang Jawa, apakah hubungan mereka selalu dalam kebencian?

Saya menjumpai Carey lagi. Kali ini kami berbincang di kediamannya yang anggun, tepi timur Kali Cisadane, Tangerang Selatan. Di ruang tamunya, dia memajang lukisan potret Pangeran Dipanagara bergaya kontemporer.

Pada akhir abad ke-18, keturunan Cina punya berbagai peran di Jawa: pengusaha untuk keraton, ahli medis, hingga selir. Dari naskah keraton yang dirampas Inggris, Carey berkata bahwa Sultan Kedua punya seorang tabib pribadi keturunan Cina. Beliau juga punya selir bernama Mas Ayu Sumarsanawati yang keturunan Cina di pesisir utara. Selir itu me­lahirkan Jayakusuma, paman Dipanagara yang menjadi panglima dan ahli siasat perangnya, ujarnya. 

“Saya kira,” kata Carey, “saat Dipanagara dibesarkan di Yogya pada akhir abad ke-18 dan awal abad ke-19, belum ada semacam apartheid antara Tionghoa dan Jawa.” Dia menduga, istri pertama yang sah dari Dipanagara adalah keturunan Cina. “Yang menjadi betul-betul parah adalah sesudah Belanda kembali. Belanda memaksa sebuah sistem yang bersekutu dengan keturunan Tionghoa sebagai bandar tol.”

Mengapa orang-orang Cina itu mau bersekutu untuk memeras pada 1820-an?  Rupanya mereka pendatang baru asal Fujian yang tidak bisa berbahasa Jawa—apalagi kenal budayanya—dan tidak lancar berbahasa Melayu.

Awal perang memang penuh teror terhadap warga Cina. Namun, belakangan, orang Jawa merindukan mereka juga. “Situasi seperti balik ke semula,” ujarnya. “Bahwa orang Tionghoa dibutuhkan untuk menjadi pembekal sebab mereka punya jaringan di pesisir. Mereka menyelundupkan mesiu dalam paket-paket ikan asin”—sebagian bertempur di pihak Dipanagara!

Ketika kebencian terhadap orang-orang Cina masih bergolak, Dipanagara bersama laskarnya pernah bermalam di Kedaren, dusun berbenteng jurang dekat Jatianom. Dalam babadnya, dia mengisahkan suatu malam, seorang perempuan Cina yang menjadi tawanan diutus sebagai tukang pijitnya. Lalu, Sang Pangeran terlena dan berselingkuh dengan perempuan Cina itu.

Menurut Dipanagara, peristiwa malam di Kedaren itulah yang membuatnya keok dalam pertempuran Gawok, Oktober 1826. Dia terluka parah di bagian dada kiri dan tangan kanannya. “Dia bukan orang yang munafik,” ujar Carey. Dipanagara mengakui bahwa sifat buruknya masih melekat dan dia mengakui pula bahwa kelemahannya terhadap kaum hawa. “Dia terus terang, dan itu yang menarik dari babad.”

Pengakuan atas kesalahan sendiri merupakan watak kesatria. Namun, kejujuran Sang Pangeran menjadi tragedi yang tidak diakui. Selama hampir 150 tahun sesudah Perang Jawa, nasib keluarga Dipanegara tidak begitu beruntung. Ibarat pembawa sial, tak ada keluarga Keraton Yogyakarta dan Surakarta yang menggunakan nama Dipanagara lagi, hingga kini. Di Jawa, keturunannya pernah mendapat stigma seperti orang yang terlibat G30S—cap buruk.

Seorang cicit Dipanagara pernah mendirikan Jajasan Pendidikan Diponegoro pada 1954 di Yogyakarta. Tujuannya, supaya wangsa Dipanagaran yang di pelosok Gunung Kidul dan Bagelen bisa memperoleh beasiswa untuk bersekolah di Yogyakarta. Walau tersedia uang dan dukungan, tak satu pun orang yang bersedia mengaku keturunan Dipanagara. Miris.

“Malah saya seperti kecolongan,” ungkapnya. Salah seorang calon presiden Republik Indonesia, diam-diam mencuplik video wa­wancara Carey demi kampanye politik pemilihan umum 2014. Carey sangat keberatan lantaran sejatinya wawancara itu bukan dibuat untuk kepentingan politik. “Seolah-olah dia mau membuat sejarah fiktif bahwa dia punya persentuhan dengan Dipanagara,” tuturnya. “Dan, itu tidak mungkin terjadi pada 40 tahun yang lalu.”

Apa teladan Dipanagara untuk zaman sekarang? “Dipanagara tidak menolak takdir,” ujarnya. “Di zaman edan dia masih tetap waras.” Dia hidup di zaman yang tidak pernah memberikan solusi yang baik, meski segala daya upaya telah dikerahkan. Nasibnya tragis. Namun, dia bisa menjalani semuanya dengan ikhlas karena telah tertempa tiga tsunami dalam hidupnya. “Dia bisa hijrah meskipun kehidupan berubah: di Tegalrejo waktu diadopsi, dikhianati di Magelang, dari medan perang menulis sastra, lalu menyiapkan diri untuk akhirat.”

Saya termangu di hadapan nisan putih yang tertancap mungil di bekas Kerkhof Kebonjahe, Jakarta Pusat. Makam berhias vas bunga itu bertuliskan “General Majoor A.V. Michiels” disusul baris di bawahnya “Balie 23 Mei 1849”.

Sejak pertempuran terakhir di Siluk yang pe­cah pada 17 September 1829, laskar Dipanagara tercerai berai. Dia menyeberangi Kali Progo dan tak pernah lagi menjejakkan kakinya di  Mataram. Andreas Victor Michiels inilah yang nyaris menangkap Dipanagara saat me­larikan diri di Pegunungan Gowong, kawasan barat Kedu pada 11 November 1829—kado tak lucu di hari ulang tahun Sang Pangeran yang ke-44. Dia berlari meninggalkan kuda, tombak pusaka Kiai Rondan, dan peti pakaiannya. Lalu, meloncat ke jurang dan tersamar di balik rerimbunan gelagah. Sejak itu dia berjalan kaki sepanjang hutan, hanya ditemani dua punakawannya. Hidup terlunta-lunta, terserang malaria, dan menjejak Banyumas pada akhir Januari 1830.

Memang, Stelsel Benteng telah menyulitkan gerak Dipanagara. Namun, pecahnya koalisi laskar turut merapuhkan kekuatannya. Pada November 1828, Kiai Maja memutuskan untuk menyerah karena tidak sependapat dengan Dipanagara soal pendirian keraton dan keluhuran agama Islam. Sementara, pertengahan Oktober 1829, Senthot menyerah karena tak ada lagi simpati rakyat akibat pajak yang dipungutnya sendiri. Ketika santri dan rakyat berkurang dukungannya, perang gerilya pun menjadi sulit.

Perang Jawa meminta tumbal menge­rikan. Taksirannya, 200.000 orang Jawa binasa, warga Yogyakarta tinggal separuh. Sekitar dua juta orang hidup sengsara. Ternak habis dan pertanian rusak berat. Sekitar 15.000 serdadu Hindia Belanda hilang dan tewas­—hampir separuhnya serdadu pribumi. Belanda nyaris bangkrut.

Kedua pihak telah dilanda kelelahan perang yang teramat sangat. Bersama serpihan laskarnya, pada awal puasa Dipanagara setuju datang ke Magelang untuk beramah-tamah karena mendapat jaminan kekebalan diplomatik.  Pada 8 Maret 1830, Pangeran tiba di pesanggrahan darurat di Desa Metesih, sekitar satu kilometer dari wisma residen Magelang.

De Kock pernah berkunjung dan membingkiskan seekor kuda kepadanya dan sejumlah uang untuk laskarnya. Dipanagara  berkesempatan jalan-jalan pagi ke taman wisma residen. Dia dan De Kock berjumpa dua kali di taman sembari bercakap dan bersenda gurau jelang matahari terbit, demikian menurut babadnya.

Pada hari Lebaran, Minggu 28 Maret 1830, sebagai seorang yang lebih muda, Dipanagara mengunjungi De Kock untuk ramah-tamah di wisma residen. Tidak ada perundingan, hanya obrolan. De Kock, yang menggunakan kebaikan hati orang Jawa, telah meren­canakan untuk menangkap Dipanagara dengan cara apa pun. Jadi, sejatinya Sang Pangeran itu tidak pernah “tertangkap”, melainkan “terperangkap”. Sepertinya itu istilah yang lebih tepat.

Perang Jawa berakhir dengan cara yang memalukan. Pemberontakan Dipanagara meng­akhiri titimangsa lama di Jawa. Terbentanglah untaian panjang titimangsa baru: Penjajahan sejati di Tanah Jawa, sebuah masa getir dengan dera tanam paksa dan gilasan modal swasta.

Dipanagara menjalani kehidupan yang tragis sebagai tawanan perang yang terhormat. Selama persinggahan hingga ke tempat pengasingannya yang terakhir, dia tidak pernah ditempatkan dalam jeruji penjara. Belanda memberikan kamar hunian dalam Fort Amsterdam di Manado, dan Fort Rotterdam di Makassar. Seluruh biaya Perang Jawa dan biaya hidup Dipanagara menjadi tanggungan Keraton Yogyakarta. Dia wafat dalam kemiskinan pada Senin, 8 Januari 1855 dalam usia 69 tahun, satu dekade setelah De Kock wafat. Hingga akhir hayatnya, pangeran itu tetap memilih disapa dengan Ngabdulkamid.

Dipanagara merupakan sosok kontroversial. Bagi Belanda, dia merupakan sosok yang mewakili perlawanan terhadap kolonialisme, lewat Perang Sabil. Bagi Indonesia, dia merupakan sosok yang tidak disukai oleh Keraton Yogyakarta karena dianggap pengkhianat. Bahkan, pembe­rontakan Dipanagara nyaris membuat Keraton Yogyakarta disirnakan oleh Belanda.

Di Keraton Yogyakarta, saya sowan kepada Kanjeng Raden Tumenggung Jatiningrat, cucu Sultan Kedelapan. Kami berbincang di tempat kerjanya sebagai Pengageng Tepas Dwarapura. Jatiningrat membacakan cuplikan naskah berbahasa Jawa, yang selama ini tersimpan rapat di keraton. Dia baru berani menceritakan naskah itu kepada saya karena menurutnya zaman sudah berubah. Analisanya berdasar naskah itu: Ada dugaan bahwa Keraton Yogyakarta terlibat dalam penjebakan Dipanagara di Magelang.

Kisahnya, Raden Tumenggung Danukusuma II “sekonyong-konyong” keluar dari keraton. Dia merupakan, ipar Dipanagara, sekaligus patihnya dengan gelar Raden Adipati Abdullah Danureja. Selepas Dipanagara ditinggalkan para panglima perang dan saudaranya, Abdullah berinisiatif berembuk dengan De Kock. Dia meminta De Kock untuk segera mengadakan perdamaian di wisma residen. Pada hari yang ditentukan, Dipanagara dan De Kock di kamar depan, sementara dia datang lebih dahulu di kamar belakang. Usai Dipanagara ditangkap, Abdullah Danureja  menghadap ke Keraton lagi. Lalu, dia bergelar Kanjeng Adipati Danuningrat. “Ini sumber keraton yang mengatakan seperti itu.”

Jatiningrat menduga bahwa Abdullah se­ngaja diselundupkan dalam misi rahasia, bukan atas inisatif pribadi, karena buktinya dia kembali ke keraton lagi. “Ini rembuk negara, bukan perorangan.” Saat saya desak siapa penulisnya, sambil tersenyum dia menolak menyebutkan nama.

“Masa lalu kita akui bahwa perselisihan membuat satu trah tersisihkan. Sejarah yang baik adalah sejarah yang bisa memberikan pendidikan bagi penerus sejarah itu,” ujarnya. “Memang susah bicara apa adanya, dan sering apa adanya itu memerlukan waktu.”

Di beranda rumah ki roni yang menam­piaskan angin beraroma persawahan daerah Wates, kami me­lanjutkan perbincangan tentang leluhur dan usaha dalam menghimpun kembali kerabatnya yang hilang. Dia berkisah, leluhurnya yang bernama Raden Mas Alip atau Ki Sadewa adalah putra Dipanagara dari perkawinan de­ngan Raden Ayu Citrawati asal Madiun. Pasca-perang, keturunan Dipanagara terus diburu. Ki Sadewa melanjutkan perju­angan ayah­nya hingga gugur karena dibunuh antek Belanda di Kulonprogo pada 1860.

Menurut Ki Roni, rekonsiliasi antara Keraton Yogyakarta dan wangsa Dipanagaran terjadi setelah Presiden Soekarno mempering­ati seabad wafatnya Sang Pangeran. Meski demikian, di perbukitan Menoreh, banyak turunan Dipanagara masih memegang teguh pesan leluhurnya untuk merahasiakan jatidiri mereka. Ki Roni yang berniat mendata mereka justru mendapat penolakan. “Mas, kamu ini melanggar pesan,” ujarnya menirukan seorang pemegang teguh. “Bukankah kita tidak boleh mengaku? Malah kamu sekarang bikin organisasi segala!”

“Berat... Berat sekali,” rintih Ki Roni dengan mata berkaca-kaca. Lalu, dia berujar dengan suara parau, “Yang tidak peduli pun banyak.” Dia sanggup mendatangkan 1.500 orang dalam acara Syawalan wangsa Dipanagaran yang menghuni Kulonprogo, namun dia kecewa karena mereka sekadar bangga menjadi keturunan Dipanagara. “Kelakuannya jauh,” ucapnya nyaris berbisik. “Pejabat korupsi, anak-anak muda mabuk, petani yang malas.”

Ki Roni mengatakan, barangkali mereka terlalu lama bersembunyi sehingga nama sang leluhur itu telah hilang dari hati mereka. Dia berharap mereka mendapatkan teladan dari Dipanagara: Jujur, tegas, berani, dan bijaksana. “Coba lihat para pemimpin kita. Tegas memang iya, tetapi hanya kepada orang-orang tertentu,” ujarnya. Seraya menunjuk dada kirinya dia berperi, “Karena di sini sudah tidak jujur.”

===
OLEH MAHANDIS Y. THAMRIN 
FOTO OLEH BUDI N. D. DHARMAWAN
===
Mahandis Y. Thamrin, editor teks, menulis temuan U-Boot di Laut Jawa, Mei 2014. 
Budi N. D. Dharmawan, fotografer dokumenter, berkontribusi dalam kisah Danau Borobudur dan Raden Saleh.

Source :
http://nationalgeographic.co.id/feature/2014/08/kecamuk-perang-jawa




Share on Google Plus

About Poerwalaksana M.Djayasasmita

    Blogger Comment
    Facebook Comment

0 komentar:

Post a Comment